Cinta Wisata Jawa Tengah – Pesona Wisata Dinginnya Gunung Lawu

Kalau Jawa Barat punya kawasan wisata ‘Puncak’, Jawa Tengah juga punya wisata puncak-nya, yaitu Karanganyar. Kabupaten Karanganyar yang terletak di lereng Gunung Lawu ini memang menjadi salah satu tujuan wisata pilihan masyarakat dari seluruh Indonesia. Bukan hanya karena suasana yang asri dan sejuk abis, daerah ini juga menyajikan beraneka ragam obyek wisata.

Kali ini Diajeng akan membahas berbagai obyek wisata di beberapa kecamatan di Kabupaten Karanganyar yang paling dekat dengan puncak Gunung Lawu, antara lain Kecamatan Tawangmangu, Kecamatan Ngargoyoso, Kecamatan Kemuning dan Kecamatan Jenawi. Buat kalian masyarakat Solo dan sekitarnya, pasti sudah tidak asing lagi dengan Tawangmangu, tetapi mungkin belum banyak yang tahu tentang Ngargoyoso, Kemuning, apalagi Jenawi. Padahal kecamatan-kecamatan tersebut juga mempunyai obyek wisata yang tidak kalah oke dibandingkan Tawangmangu.

Kabupaten Karanganyar terletak di sebelah timur Kota Solo. Dari Solo, ikuti jalan utama Karanganyar, yaitu Jalan Lawu, jalan ini akan menghubungan Karanganyar dan Magetan, dan melewati berbagai obyek wisata di sekitar Gunung Lawu. Jika diteruskan hingga puncak Lawu maka jalan ini akan berakhir di Telaga Sarangan, Jawa Timur.

Peta Karanganyar
black-background-house-border-street-14359683

Berikut ulasan beberapa kawasan wisata di Kabupaten Karanganyar yang berlokasi di sekitar Gunung Lawu :

Wisata Sejarah
Kalau bicara soal candi, pasti yang langsung terpikir adalah dua candi ternama di Indonesia yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Siapa sangka ternyata peninggalan sejarah Kerajaan Hindu ini juga ada di puncak gunung. Ada dua buah candi di Kecamatan Kemuning yang masih belum banyak terjamah oleh wisatawan, yaitu Candi Cetha dan Candi Sukuh.

1. Candi Sukuh
Candi Sukuh adalah salah satu candi peninggalan kerajaan Majapahit di akhir era kekuasaannya. Candi bercorak agama Hindu ini diperkirakan berdiri pada abad ke-15. Menurut sejarahnya, saat Kerajaan Islam mulai menguasai Pulau Jawa, Kerajaan Majapahit mulai terdesak dan pemerintahannya tergusur hingga ke Gunung Lawu. Peradaban terakhir yang menjadi saksi sejarah Kerajaan Majapahit ini adalah dua buah candi yaitu Candi Sukuh ini dan Candi Cetha yang akan dibahas di poin selanjutnya.

Candi Sukuh dapat ditempuh dalam waktu 1,5-2 jam dari kota Solo dengan kendaraan bermesin. Kalau sudah sampai ke Kabupaten Karanganyar, dari Jalan Lawu teruslah berkendara ke arah timur sampai menemukan pasar Karangpandan, dari pasar ini belok ke kiri (kalau ke kanan akan menuju ke Tawangmangu) sampai menemukan gapura Kecamatan Ngargoyoso, dari gapura ini perjalanan masih sekitar 20-30 menit. Setelah dari gapura Ngargoyoso, perjalanan akan sedikit berbelok-belok, tetapi jangan khawatir, terdapat banyak pentunjuk jalan yang sangat mudah diikuti untuk mencapai obyek wisata ini.

Inilah penampakan Candi Sukuh
Candi Sukuh

 

Candi yang terdiri dari tiga tingkatan ini sering dijuluki dengan candi rusuh (rusuh=tabu), mengapa bisa begitu? Saat berwisata ke sini jangan lupa mengamati relief-reliefnya dengan saksama. Candi ini juga memiliki bentuk yang unik, tidak seperti candi peninggalan Kerajaan Hindu-Budha kebanyakan, bentuknya justru mirip dengan peradaban suku Inca dari Peru. Candi ini juga memiliki banyak cerita mistis, mulai dari sebagian kompleks candi yang disakralkan karena dianggap masih berpenunggu dan juga mitos tentang uji keperawanan yang terkenal itu. Jangan heran saat berkunjung ke sini dan melihat banyak penduduk atau bahkan wisatawan yang datang untuk melakukan ritual untuk memanjatkan permohonan atau melakukan ruwatan.

2. Candi Cetha
Lokasi Candi Cetha (dibaca : ceto) berjarak sekitar 15-20 menit lebih ke puncak dari Candi Sukuh, di Kecamatan Jenawi. Oleh karena lokasi yang berdekatan ini, wisata kedua candi ini pun biasanya dilakukan satu paket. Selain lokasinya yang berdekatan, kedua candi ini juga diperkirakan dibangun dalam waktu yang tidak jauh berbeda dan keduanya sama-sama merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit pada masa akhirnya.

Disebut Candi Cetha (cetha artinya terlihat jelas), karena letaknya yang berada di puncak gunung sehingga candi ini dapat terlihat jelas dari lokasi di sekitarnya. Candi Cetha memiliki bangunan yang lebih luas dan terdiri dari sembilan tingkatan. Pada bagian tertinggi dari candi ini ditempatkan Arca Dewi Saraswati yang masih disakralkan oleh penduduk sekitar sehingga tidak selalu boleh dikunjungi oleh wisatawan.

Gapura Candi Cetha
Candi Cetha

Pada bagian pelataran candi tingkat ke-7, terdapat susunan batu yang memenuhi seluruh pelataran. Ada yang menyebutkan bahwa patung batu itu berbentuk kura-kura, ada juga yang menyebutkan matahari, atau bahkan benda luar angkasa, UFO. Mungkin diperlukan penyelidikan sejarah yang lebih mendalam untuk memahami apa makna dari patung batu tersebut sebenarnya. Kalau menurut Diajeng sih, bentuknya mirip kalender Suku Maya yang sempat terkenal karena ramalan 2012-nya, itu. Candi Sukuh mirip dengan peradaban suku Inca, sedangkan Candi Cetha mirip dengan peninggalan suku Maya, apakah sebuah kebetulan?

atau mungkin memang sebuah UFO pernah datang ke bumi pada zaman Kerajaan Majapahit?
Candi Cetha 2

Jangan lupa menengok ke bawah saat berada di lokasi Candi Cetha. Panorama yang dapat dinikmati dari candi ini sangatlah menakjubkan. Apalagi saat kabut mulai turun, berada di Candi Cetha berasa seperti berada di desa di atas awan. Akan tetapi bagi para pengemudi kendaraan pribadi, harus berhati-hati karena turunnya kabut akan sangat membatasi jarak pandang saat berkendara.

Wisata Alam
Tentu saja wisata andalan dari kawasan pegunungan adalah wisata alam. Mulai dari Kecamatan Karangpandan hingga puncak Gunung Lawu, di kiri-kanan jalan utama sudah menyuguhkan pemandangan hijau dan udara yang sejuk. Selain hamparan hijau sawah dan pepohonan tentu saja kawasan wisata ini mempunyai berbagai keindahan alam yang tersembunyi di setiap sudutnya. Berikut beberapa ulasan wisata alam yang memukau di Tawangmangu dan Kemuning.

1. Wisata Kebun Teh
Tea-walk memang indentik dengan Puncak, tetapi jangan salah, Karanganyar juga punya kawasan tea-walk-nya. Berlokasi di Kecamatan Kemuning, di antara Candi Sukuh dan Candi Cetha, hamparan kebun teh akan menyambut kita sejauh mata memandang. Sebagian besar kebun teh ini adalah asli kebun penghasil teh, walaupun ada beberapa kawasan yang telah dijadikan lokasi wisata seperti Rumah Teh Ndoro Dongker. Tetapi, apa salahnya berjalan-jalan disejak di sekeliling daun-daun teh sambil menikmati pemandangan dan ber-selfie ria.

Pemandangan menakjubkan dari Kebun Teh Kemuning
kebun teh Kemuning


2.Grojogan Sewu

Obyek wisata paling terkenal di Kecamatan Tawangmangu adalah Grojogan Sewu. Kalau dari pasar Karangpandan Kecamatan Kemuning adalah belok ke sebelah kiri, Kecamatan Tawangmangu belok ke sebelah kanan. Jarak dari pasar adalah sekitar 20-30 menit perjalanan berkendara ke puncak Gunung Lawu. Sepanjang perjalanan amatilah tanda penunjuk obyek wisata di kiri jalan yang menunjukan obyek wisata Grojogan Sewu.

Grojogan artinya adalah air terjun, dan sewu adalah seribu. Tempat ini disebut seribu air terjun karena memang merupakan gabungan dari beberapa mata air yang menjadi satu. Jangan lupa memakai alas kaki yang kuat, karena walaupun medannya tidak seberat medan pendakian, perjalanan menuju ke air terjun cukup jauh dengan kondisi jalan berbatu-batu. Diajeng sih menyarankan pakai sepatu kets, jangan sandal apalagi high heels.

Seribu Air Terjun
Grojogan Sewu

Selain berfoto di bawah air terjun, pemandangan sepanjang perjalanan menuju ke sana juga tidak kalah indah. Siapkan kamera dengan memori yang besar buat kalian yang hobi fotografi karena obyek fotografinya yang terhingga.

Pemandangan sekitar Grojogan Sewu
Grojogan Sewu 2

Nah, karena merupakan gabungan dari beberapa mata air, maka grojogan atau aliran air terjun di Grojogan Sewu cukup deras. Buat yang ingin mandi atau sering disebut padusan, ada alternatif air terjun yang alirannya tidak terlalu deras, yaitu Air Terjun Jumog.

3. Air Terjun Jumog
Air terjun Jumog memang jarang digunakan sebagai obyek wisata. Padahal lokasinya berada lebih dekat dari Karangpandan dibandingkan dengan Grojogan Sewu. Lokasi air terjun Jumog berada lebih di bawah dari Candi Sukuh, jadi dari pasar Karangpandan menuju Gapura Kecamatan Ngargoyoso, letak air terjun Jumog sudah tidak jauh (lagi-lagi cari papan petunjuk jalannya).

Air terjun Jumog lebih sering digunakan sebagai tempat upacara atau ritual padusan yaitu mandi di bawah air terjun. Tidak tanggung-tanggung biasanya ritual ini dilakukan pada malam hari di mana suhu udara sangat membuat menggigil. Biasanya ritual ini banyak dilakukan menjelang Tahun Baru Jawa (1 Sura) atau dalam rangka memohon sesuatu.

Padusan di siang hari saja sudah dingin bukan main!
Air Terjun Jumog

Medan menuju air terjun ini tidak seberat Grojogan Sewu, tetapi siapkan stamina, karena jalan menuju air terjun  berupa seribu tangga. Air terjun Jumog terletak di bagian dasar dari seribu tangga ini, jadi turunnya tidak masalah, tetapi saat kembali ke atas.., ya siap-siap saja.

4. Pendakian Gunung Lawu
Gunung Lawu memang menjadi salah satu langganan para pencinta alam yang ingin melakukan pendakian. Rute pendakian di Gunung Lawu ada bermacam-macam, baik dari arah Jawa Tengah maupun Jawa Timur, karena gunung ini terletak di perbatasan. Rute yang paling sering dilalui ada tiga :
i. Dari bumi perkemahan Segoro Gunung di Ngargoyoso
ii. Dari Candi Cetha, melalui pinggiran candi kalian bisa langsung mendaki ke puncak Lawu
iii. Dari Cemara Kandang di Tawangmangu yang merupakan rute resmi pendakian

Medan pendakian Gunung Lawu memang tidak terlalu berat, namun agak rumit. Menurut sumber salah satu anggota SAR, tidak jarang pendaki di Gunung Lawu yang tersesat. Oleh karena itu, buat teman-teman yang ingin melakukan pendakian disarankan untuk mempersiapkan fisik dan peralatan yang selengkap-lengkapnya untuk mengantisipasi segala kemungkinan. Kemudian, disarankan untuk mendaki melalui rute resminya di Cemara Kandang, karena selain lebih aman, rute resmi ini juga menyajikan pemandangan yang lebih indah sepanjang jalur pendakian.

Dan ini yang ditunggu-tunggu,
Wisata Kuliner
Sebagai blog kuliner tentu saja wisata kuliner tidak boleh ketinggalan. Tidak hanya candi dan alam, wisata kuliner khas juga ada di kawasan Tawangmangu dan sekitarnya. Langsung kita mulai saja wisata kuliner apa saja yang dapat dinikmati sambil jalan-jalan di tengah dinginnya Gunung Lawu.

1. Sup Buntut Bu Ugi
Kuliner paling terkenal di Kecamatan Tawangmangu dan sekitarnya adalah Sup Buntut Bu Ugi. Rumah makan yang sudah berdiri kurang lebih setengah abad lalu ini memang merupakan kuliner yang masih bertahan dan bahkan semakin ramai dikunjungi oleh wisatawan. Lokasi rumah makan ini adalah di Jalan Lawu (atau sering disebut jalan  Tawangmangu-Magetan), Kalisoro, nomor 60. Kalau bertanya pada penduduk sekitar pasti ancer-ancer-nya lurus saja melalui jalan utama Tawangmangu, setelah pasar lihat sebelah kiri, cari rumah makan yang paling ramai mobil-mobil. Ya, Sup Buntut Bu Ugi memang selalu ramai oleh wisatawan maupun masyarakat sekitar daerah itu sendiri.

Sedapnya Sop Buntut ditengah dinginnya Tawangmangu…
sop buntut

Walaupun disebut sup buntut, sebenarnya sup ini tidak hanya berisi buntut sapi, mungkin lebih cocok disebut sup balungan (balungan=tulang-tulang). Sup ini selalu disajikan hangat, jadi balungan dan daging sapinya memang selalu direbus mulai dari rumah makan dibuka hingga tutup, jadi kaldu sapinya sangat terasa di kuahnya. Diajeng punya menu favorite lain sebagai teman makan bersama sup buntut ini, yaitu :

nasi pecel telur ceplok
pecel telur

Hangat, nikmat, dan pastinya juga sehat. Oke, kuliner kita yang berikutnya adalah :

2. Sate Kelinci
Kuliner paling terkenal nomor dua kawasan wisata ini adalah Sate kelinci. Sate kelinci dapat ditemukan dengan mudah di mana pun, karena banyak pedagan keliling yang menjajakan sate kelinci dari satu tempat wisata ke tempat wisata lainnya. Namun, ada juga para penjaja sate kelinci yang menetap, salah satunya adalah Sate Kelinci Pak Sukadi. Letaknya yang berada di dekat Taman Balekambang menjadikan warung Sate Kelinci Pak Sukadi sebagai salah satu pilihan kuliner wisatawan.

Dari arah jalan utama Lawu atau Tawangmangu-Magetan, sebelum Sup Buntut Bu Ugi, di kiri jalan kalian akan menemukan kawasan Balekambang. Kawasan ini sendiri merupakan suatu kawasan wisata one-stop-visit karena terdapat Taman Rekreasi Balekambang dengan aneka arena olahraga, kolam renang, serta wisata alamnya, juga terdapat aneka kuliner mulai dari restoran hingga warung-warung seperti milik Pak Sukadi, hingga pasar buah, agro wisata, dan pastinya penginapan serta villa bagi yang ingin menghabiskan malam di Tawangmangu.

Kembali ke sate, sebenarnya tidak ada yang terlalu berbeda dengan sate kebanyakan yang sering kita jumpai di berbagai tempat. Yang spesial adalah olahan daging yang jarang kita jumpai yaitu kelinci. Buat yang terlalu nggak tega untuk makan daging kelinci yang imut-imut itu, ada juga sate ayam. Buat yang juga nggak tega untuk makan ayam, bisa makan sambel kacangnya. Eh, maksudnya bisa minum wedang ronde saja, yang akan kita bahas di poin selanjutnya.

Sate Kelinci
sate kelinci

Warung Pak Sukadi
warung sate

3. Wedang Ronde
Buat yang jeli mengamati fotonya, pasti kelihatan bahwa disamping gerobak sate Pak Sukadi ada gerobak wedang ronde. Wedang Ronde adalah sebuah minuman hangat, terbuat dari air jahe manis yang di dalamnya diisi dengan kue ketan berisi kacang (seperti kue mocci), dengan beraneka variasi tambahan seperti kolang kaling, jelly, atau kacang goreng.

Sebuah kehangatan di malam yang dingin…
wedang ronde

Wedang ronde ini memang pas banget dinikmati di tengah udara Gunung Lawu yang dingin, karena jahenya akan langsung menghangatkan tubuh kita, dan mungkin hati kita juga.

Warung Ronde tak bernama di samping Sate Pak Sukadi
wedang ronde 2

4. Buah yang segar langsung dari Kebun
Salah satu andalan Kecamatan Tawangmangu adalah pasar buahnya. Kecamatan ini memang dipenuhi oleh perbagai perkebunan dan agrowisata, jadi buah-buahan yang dijual di pasar buah adalah buah-buah segar yang baru dipanen. Pasar buah ini dapat ditemukan di depan Taman Balekambang. Dari ujung ke ujung akan terlihat kios-kios penjaja buah yang segar lengkap dengan tester untuk membuktikan kualitas dan rasa dari buah-buah yang dijual.

Pasar Buah
pasar buah

Kalau buah kesukaan Diajeng adalah yang satu ini :

Tawangmangu Strawberry fresh from the Garden
beautiful strawberryyyyy

Demikian sedikit ulasan wisata di kawasan Gunung Lawu Kabupaten Karanganyar. Berikut tips bagi yang mau berwisata ke sana :
1. Bawalah perlengkapan dan pakaian yang memadai, terutama bagi yang mau melakukan pendakian atau tinggal bermalam, karena di sana itu dingin!!
2. Buat yang memilih naik kendaraan pribadi, baik motor maupun mobil, harus super hati-hati. Jalan menuju ke berbagai lokasi wisata bukanlah medan yang mudah dan banyak bus dan truck yang akan menjadi teman berkendara anda. Bagi yang baru saja bisa mengemudikan mobil, disarankan untuk minta tolong driver yang lebih ahli saja, sangat disarankan.
3. Ini tips jadwal untuk berlibur selama 2 hari, jika berangkat dari Solo menuju Karanganyar, pertama dari pagi hari naiklah sampai Candi Cetha-Kebun Teh-Candi Sukuh-Air Terjun Jumog, setelah itu bermalam di Tawangmangu-jika ingin melakukan pendakian, mulailah dari tengah malam dan kalian bisa menikmati sunrise di puncak Lawu (rute Cemara Kandang)-Taman Balekambang (wisata kuliner)-Grojogan Sewu.
4. Sudah disebutkan di awal bahwa jika perjalanan sampai puncak Gunung Lawu ini terus dilanjutkan ke arah timur, maka akan berakhir di Telaga Sarangan, Jawa Timur. Namun, sepertinya obyek wisata yang ini akan kita bahas lain waktu di posting yang berbeda karena tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Lomba Blog Visit Jawa Tengah.

2015064456